Langsung ke konten utama

Wayang Golek

 

Sumber gambar : https://penerbitbukudeepublish.com/sejarah-wayang-golek/

Kenangan saat kecil dulu yang masih teringat sampai sekarang adalah tontonan wayang golek di televisi. Ayah saya senang sekali menonton pertunjukan wayang golek di TVRI Stasiun Bandung yang rutin menayangkannya. Saat itu dalang yang terkenal adalah Asep Sunandar Sunarya. Dia adalah dalang yang paling populer di Jawa Barat. Pertunjukkan wayang golek adalah salah satu budaya khas bagi masyarakat sunda. Berbeda dengan wayang yang ada di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menggunakan media kulit sebagai bahan membuat tokoh-tokoh wayangnya maka di daerah Jawa Barat tokoh-tokoh wayang dibuat dari media utama kayu dengan tambahan Pernik baju dari kain dan wajahnya yang dibuat mirip dengan manusia. Golek menyerupai boneka. Biasanya golek ini hanya dibuat lengkap kepalanya saja. Kepala tersebut disangga oleh batang kayu. Begitupun dengan lengannya yang terbuat dari kayu yang bisa digerak gerakkan. Lalu dari kepala ke bawah dibuatkan baju yang sesuai dengan penokohannya. Pertunjukkan golek diiringi dengan gamelan sunda dan seorang sinden yang menyanyi di sela sela pertunjukkan. Pertunjukkan wayang golek terasa lebih riil dan nyata karena dalang benar-benar menyuguhkan pertunjukkan semirip mungkin dengan kejadiannya. Misalnya ketika ada cerita salah satu tokoh yang diceritakan muntah maka golek tersebut memuntahkan makanan sehingga lebih terasa nyata.

Kepiawaian dalang dalam membawakan pertunjukkan wayang golek memiliki peran penting untuk menghidupkan cerita. Tokoh yang paling saya ingat adalah Cepot. Tokoh Cepot ini selalu membawa keseruan karena selalu membawa humor segar khas sunda. Tidak jarang ketika ikut menonton wayang golek bersama ayah saya tertawa sampai terpingkal pingkal mendengar dan melihat polah lucu cepot dalam cerita wayang golek tersebut. Pertunjukkan wayang golek biasanya malam hari dan waktunya cukup lama bisa sampai lewat tengah malam. Tapi karena ceritanya seru dan asyik maka selama pertunjukkan tidak pernah merasakan kantuk.

Wayang golek pada saat itu tidak hanya ada di acara televisi saja. Namun dalam berbagai acara seperti hajatan pernikahan, khitanan bahkan acara kenaikan kelas di sekolah-sekolah sering sekali orang menghadirkan pergelaran wayang golek  ini sebagai bagian dari acara hiburannya. Untuk bisa menghadirkan dalang terkenal seperti Asep Sunandar Sunarya tidak bisa secara mendadak karena banyak sekali orang yang ingin mengundangnya. Sehingga jika ingin menghadirkan pertunjukkan wayang golek tersebut harus memesan jauh-jauh hari sebelumnya. Pertunjukkan wayang golek adalah salah satu media yang bisa menghadirkan banyak orang. Biasanya pertunjukkan wayang golek diadakan di atas panggung besar. Dalam sebuah tulisan yang dimuat di https://nasional.tempo.co/read/566877/sekali-manggung-dalang-asep-dibayar-rp-100-juta/full&view=ok, untuk bisa menghadirkan pertunjukkan wayang golek harus merogoh kocek yang cukup banyak hingga ratusan juta jika ingin mengundang dalang terkenal.

Saat ini, saya melihat sudah jarang ada pertunjukkan wayang golek di masyakrakat. Begitupun di televisi saya sudah jarang melihatnya. Padahal wayang golek adalah salah satu budaya  tradisi kesenian sunda yang patut dipertahankan.  Semoga saja dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini dan hadirnya media hiburan yang sarat dengan sentuhan teknologi seperti saat ini tidak lantas menenggelamkan pertunjukkan wayang golek. Jujur saya kangen nonton wayang golek.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Tsundoku

APA SIH TSUNDOKU ITU ? Pernahkah kita mendengar istilah Tsundoku? Istilah ini mungkin bagi sebagian orang masih terdengar asing di telinga. Tsundoku biasa juga disebut sebagai virus Tsundoku. Tsundoku adalah kata yang berasal dari bahasa Jepang. Menurut beberapa sumber yang saya baca istilah tsundoku diartikan sebagai pola kebiasaan membeli atau memiliki beberapa buku namun tidak diikuti dengan kegiatan membaca buku yang sudah dimilikinya tersebut. Bagi orang yang terpapar virus tsundoku ini mereka akan memperoleh kepuasan ketika bisa memiliki buku yang diinginkannya. Ada kesenangan tersendiri ketika melihat buku koleksi pribadinya berjejer panjang di rak buku. Mereka semata-mata hanya puas, senang dan bahagia ketika memiliki koleksi buku yang banyak. Hanya sebatas pada hal tersebut. Tsundoku berasal dari kata Tunde Oku yang artinya membiarkan sesuatu yang metumpuk dan ditulis. Seiring waktu berjalan kata Oku ditambah satu huruf menjadi doku yang artinya membaca. Istilah yang mulai...

Sayur Sop dan Informasi Seputarnya

  https://food.detik.com/sayur/d-5364660/resep-sayur-sop-yang-segar-dan-kaya-nutrisi .Siapa diantara kita yang belum pernah mencicipi sayur sop ? Sepertinya semua pernah mencobanya. Sayur sop ini sangat populer di kalangan masyarakat kita. Apalagi anak-anak, mereka rata-rata menyukai sayur sop. Sop ini berasal dari Bahasa perancis yaitu Soupe yang berarti merendam.   Zaman dulu sop ini terbuat dari roti. Roti yang direndam oleh kuah kaldu. Cara makannya adalah roti dicelupkan pada kuah kental sop. Sop adalah makanan para bangsawan pada saat itu. Seiring perkembangan zaman , saat ini sop hadir sebagai sayur berkuah dan dimakan dengan sendok. Banyak sekali jenis-jenis sop yang ada   dan biasa dikonsumsi oleh masyarakat kebanyakan. Sayur sop hadir dengan berbagai variasi menu bahan sayur dan ikan. Bahan daging dalam sayur sop bermacam-macam. Sop ayam kampung adalah salah satu sop paling enak dan saya sangat menyukainya. Dari namanya saja kita sudah pasti tahu bahawa sop ...

Buku Bajakan : Beberapa Tips Mengenali dan Menghindarinya

  Buku bajakan memang tak bisa dipungkiri sangat banyak beredar di negara kita. Hal ini didukung oleh belum kuatnya penerapan regulasi aturan tentang Undang-Undang Hak Cipta di lapangan. Hal ini dibuktikan pula oleh banyaknya marketplasce yang masih bebas memperjualbelikan buku-buku bajakan di lapak jualan onlinenya. Tere Liye penulis kenamaan di Indonesia sampai menulis satu novel khusus yang berlatar belakang tema pembajakan. Novel tersebut berjudul Selamat tinggal. Novel ini pun sudah saya review di artikel sebelumnya. Sebagai seorang pustakawan, saya menerapkan kebijakan yang tidak bisa ditawar untuk koleksi perpustakaan yang dikelola. Koleksi buku perpustakaan tidak boleh buku bajakan karena perpustakaan harus menghargai hak cipta si penulis buku. Dengan membeli buku original atau asli maka royalti akan masuk ke penulis tersebut. Sebaliknya jika kita membeli buku bajakan maka royalti tidak akan masuk dan menjadi penghasilan penulis. Menulis buku dan ide menulis itu mahal. Me...